Selasa, 01 Oktober 2013

Pada Mulanya Adalah Air

Bagaimana cara air mempengaruhi lingkungan masyarakatnya?

Sebermula masa, peradaban manusia adalah peradaban air. Manusia selalu membangun kebudayaan dekat dengan sumber air. Hal ini karena air menjadi salah satu sumber inspirasi, kebutuhan dan juga pusat kehidupan masyarakat lampau. Air memberikan kemampuan manusia untuk hidup, berpikir, dan berkembang. Dalam banyak hal air juga menjadi simbol kemurnian, kesucian dan pengetahuan.

Barangkali benar tanpa air tak akan pernah ada peradaban.
Kita mengenal peradaban Eufrat-Tigris di Mesopotamia, Nil di Mesir, dan peradaban Sungai Kuning di Tiongkok yang sangat megah dibangun berdekatan dengan sumber air. Selain memberikan kemakmuran dalam hal pertanian, sungai-sungai tersebut juga menjadi akses transportasi yang membuka pintu perdagangan. Banyaknya air bersih juga menjadi sebuah indikator kemakmuran. Sehingga mereka bisa menikmati kehidupan yang sehat dan terhindar dari penyakit.
Hampir di setiap situs peninggalan peradaban besar tadi ditemukan relief atau gambar pada kendi air yang menggambarkan kemakmuran bangsanya. Kendi-kendi tersebut bisa berarti banyak hal apakah sebagai tempat menyimpan harta, minyak atau air minum. Namun yang jelas di berbagai relief yang ada kendi menjadi salah satu simbol kehidupan yang memancarkan air. Kita lantas mengenal simbol ini sebagai lambang bintang Aquarius.

Air selayaknya mudah didapatkan. Ia selalu terganti melalui siklus hujan. Dahulu orang tua kita bercerita bahwa kita dapat minum air langsung dari sumur atau sumber tanpa takut akan sakit. Kemurnian terjaga karena lingkungan masih tak tercemar limbah dan kotoran yang berpotensi menyebabkan penyakit. Sumur yang selalu penuh dan bersih ketika musim kemarau, sungai yang jernih dan segar barangkali hanya sebuah melankolia masa lalu yang degil.

Air kini tak bisa lagi menjadi karib yang selalu ada.
Penggal syair Gesang dalam Bengawan Solo yang berbunyi "Air mengalir sampai jauh," kini sudah tak lagi relevan. Di banyak tempat sumber air minum telah dikuasai oleh sekelompok orang atau korporasi. Kebutuhan sumber air minum yang tak akan pernah habis sampai akhir masa membuat beberapa orang merasa perlu melakukan monopoli. Melakukan pengekangan terhadap distribusi air sehingga hanya kepada mereka yang memiliki uang saja yang berhak menikmati.
Di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Daerah Istimewa Yogyakarta misalnya, pada 2009 lalu sempat bersitegang dengan sebuah pabrik setempat karena matinya sumber air yang menjadi penghidupan. Pabrik tersebut memproduksi air minum kemasan dalam jumlah masif yang membuat sumber air minum yang juga sarana irigasi menjadi berkurang secara signifikan. Hasilnya adalah beberapa kawasan lumbung padi di Klaten mengalami gagal panen, belum lagi sulitnya pemenuhan sumber air minum yang bersih.
Masalah yang dialami masyarakat Klaten juga dialami oleh masyarakat yang mendiami Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Mereka menuntut penghentian proyek pembangunan sebuah hotel lantaran di wilayah tersebut terdapat mata air Umbul Gemulo yang mengairi dan menjadi sumber kehidupan empat desa sekitar.  Mereka khawatir dengan pembangunan hotel tersebut distribusi dan pasokan air minum di daerah mereka akan terhambat atau bahkan terhenti sama sekali. Permasalahan ini bisa menjadi sangat riskan dan berpotensi konflik jika tak segera dituntaskan.

Sementara di kota Bandung, Jawa Barat melalui riset intensif yang dilakukan Zaky Yamani. Ditemukan banyak fakta yang mengerikan tentang monopoli air minum di kota Kembang itu. Dalam buku yang berjudul "Kehausan di Ladang Air; Pencurian Air di Kota Bandung dan Hak Warga yang Terabaikan", Zaky mengungkap bagaimana warga kota itu dirampok secara tersembunyi sehingga mesti membeli air yang merupakan haknya.

Lantas bagaimana semestinya kita memaknai air sebagai sebuah kebutuhan?

Melalui liputan yang memukai itu Zaky menawarkan perspektif yang barangkali sering kita lakukan namun jarang kita sadari keberadaannya. Ia menjelaskan bagaimana di sudut-sudut kumuh kota Bandung masyarakat harus mengantri aliran air setiap hari. Bahkan untuk memasak mereka terpaksa membeli air dalam kemasan yang menambah beban hidup. Belum lagi bagaimana PDAM yang semestinya menjadi garda depan pemenuh kebutuhan seringkali tak bisa bekerja maksimal memberikan air minum yang layak.
Menikmati air, khususnya air minum merupakan hak asasi manusia. Hal ini telah diratifikasi dalam banyak konsensus dunia. Salah satunya dari Komite Hak Ekonomi Sosial dan Budaya PBB yang pada tahun 2002 merilis komentar umum tentang Hak Atas Air. Di dalamnya dinyatakan bahwa setiap manusia berhakmendapatkan air bersih yang cukup, aman dikonsumsi, dan terjangkau secara fisik serta finansial untuk penggunaan pribadi dan rumah tangga. 
Komentar Umum yang tertuang dalam Komite Hak Ekonomi Sosial dan Budaya PBB tersebut menetapkan beberapa hal atas hak air bersih. Seperti setiap orang harus mempunyai akses atas air yang mencukupi.  Seperti suplai sebanyak 50 – 100 liter dan atau  minimal 20 liter per orang per hari. Selain itu kualitas air harus terjamin sehat dan aman. Air yang digunakan untuk keperluan rumah tangga juga harus aman dan layak dikonsumsi.
Di Indonesia teknologi yang mengubah air biasa menjadi air yang layak konsumsi masih jarang. Jangankan teknologi itu bahkan Perusahaan Daerah Air Minum yang ada pengelolaanya kadang dilakukan oleh swasta. Sehingga yang terjadi adalah monopoli dan kegagalan pemerataan konsumsi air. Dalam salah satu laporan yang disusun Andreas Harsono pada 2003, digambarkan bagaimana konsumsi air di Jakarta dikuasai oleh dua korporasi air dunia.

Tak banyak yang bisa dilakukan untuk memperoleh jaminan atas hak kita mendapatkan air minum yang sehat. Untuk itu perlu tindakan yang taktis dan efektif dalam upaya pemenuhan hak atas air. Pertama melakukan pemetaan wilayah atas sumber air yang ada. Karena dalam UU SDA Pasal 6 disebutkan "Penguasaan sumber daya air untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat," sehingga setelah usai pemetaan kita bisa melakukan proteksi dan perlindungan atasnya berdasar peraturan tersebut.

Langkah kedua adalah melakukan perbaikan kualitas air minum dengan menjaga lingkungan sekitar.  Seperti menjauhkan sumber air dari pencemaran, melakukan pembersihan lingkungan dan penanaman vegetasi yang mampu menjaga dan memperbaiki kualitas air. Pencemaran limbah industri maupun rumah tangga berpotensi mencemari air yang bisa menurunkan kualitas air. Hal ini tentu saja dapat berimbas pada air konsumsi yang kita gunakan. Bukan tidak mungkin air yang tak sehat itu dapat menyebabkan penyakit atau bahkan bisa meracuni kita.

Langkah terakhir adalah melakukan evaluasi dan pengawasan secara khusus dan terpadu terhadap kawasan yang berkaitan dengan air. Seperti daerah aliran sungai, daerah hulu air, dan bukit atau gumuk yang menjadi bank resapan air. Untuk hal ini masyarakat tak bisa bertindak sendiri. Kita perlu campur tangan dari pemerintah dan segala elemen yang terkait di dalamnya seperti PTPN, dinas kehutanan dan BKSDA. Sehingga pendekatan holistik dapat meningkatkan kemungkinan selamat air lebih baik lagi.
Setelah memahami hal ini ada baiknya kita kembali berpikir. Sumber kehidupan  pada akhirnya hanya akan habis ketika kita tak memiliki kesadaran untuk melakukan konservasi secara serius. Belum lagi permasalahan perusakan alam yang kian hari kian parah. Kualitas air minum kita semakin lama semakin merosot. Penggunaan bahan kimia bukanlah pilihan. Ia hanya menunda akhir yang sudah pasti. Barangkali benar kata kata sejarawan dan pemikir Inggris, Thomas Fuller, "We never know the worth of water till the well is dry. ” [Armand Dhani Bustomi]

Jalinan Solidaritas Save Gumuk Berencana Beli Gumuk

Gumuk sudah seharusnya mulai diperhatikan khususnya oleh masyarakat Jember. Sebuah gundukan kecil mirip gunung dengan kandungan bahan galian C ini, tergolong bentukan fenomena alam yang sangat langka dan cenderung unik. Sayangnya pemanfaatan lahan gumuk dalam bentuk eksploitasi lingkungan terjadi sejak sekitar tahun 1990. Semakin lama jumlah gumuk berkurang, dari sekitar 1500, kini hanya tersisa 600 gumuk, seperti yang terungkap dari acara #SaveGumuk (28/09) yang diadakan sebuah gumuk yang dieksploitasi di kompleks perumahan Gunung Batu Jember, jl. Karimata Jember. 

Menurut Dian Teguh Wahyu Hidayat, yang mewakili puluhan organisasi, lembaga, komunitas dan individu yang tergabung dalam gerakan #SaveGumuk ini menjelaskan bahwa predikat langka gumuk lebih karena pembentukan tekstur gumuk di wilayah Jember yang diyakini berasal dari letusan masif gunung Raung. Aliran lava dan material vulkanik membentuk lapisan dan mengendap selama ribuan tahun yang akhirnya membentuk ribuan gumuk yang tersebar di Kabupaten Jember. “Jika melihat identifikasi tipografi, ternyata di seluruh dunia ini, gumuk hanya ada di tiga tempat, di Indonesia dan Jepang. Sementara di Indonesia ada dua tempat, di Tasikmalaya dan Jember. Berbeda dengan Jember, ada beberapa sumber yang menyatakan keberadaan gumuk di Tasikmalaya sudah sulit ditemukan, karena eksploitasi yang berlebih di sana,” jelas Teguh.

Selain itu gumuk memiliki fungsi penopang ekosistem dan iklim yang khas sehingga membentuk ekosistem pertanian di Kabupaten Jember. “Fungsi gumuk di Jember ini turut berperan membentuk iklim yang khas di Jember. Iklim ini sangat berpengaruh terhadap hasil pertanian masyarakat Jember. Tak heran jika Jember pernah dianggap sebagai lumbung pangan nasional oleh Nawiyanto, Sejarawan Jember,” jelas Teguh.

Kepedulian terhadap gumuk kian lama makin pudar. Serentetan persoalan-persoalan terkait gumuk datang dari berbagai macam hal. Mulai kesadaran masyarakat, kebijakan pemerintah, sampai pada status gumuk sebagai milik privat yang akhirnya juga mengarah pada permasalahan ekonomi pemilik gumuk. Sehingga sampai sekarang penambangan gumuk terus berlangsung dan tidak ada yang mampu mencegahnya. “Hal yang perlu diperhatikan adalah keberadaan gumuk-gumuk di Jember adalah milik perseorangan. Jika terjadi ekspolitasi maka seluruh masyarakat Jember akan menanggung dampaknya. Maka dari itu ada upaya dari gerakan #SaveGumuk ini untuk berperan aktif memikirkan masa depan gumuk di Kabupaten Jember ini,” Jelasnya lagi.

Inisiatif jalinan solidaritas ini memilih nama #SaveGumuk sebagai ikon kegiatan. merupakan suatu jalinan kepedulian kolektif dari berbagai macam komunitas di Jember. #SaveGumuk merupakan rangkaian kegiatan antara lain, Accoustic Performance. menampilkan The Penkors, From This Accident, Tamasya, Pispot, Gudang Production. Juga Pembacaan puisi serta cangkruk’an dan pengumpulan koin untuk gumuk. ini merupakan inisiatif pengumpulan donasi untuk membeli gumuk untuk dilestarikan ini sudah ada sejak lama didengungkan oleh aktivis lingkungan dan Pecinta Alam di Jember. Selain itu juga diadakan penjualan kaos #SaveGumuk, pengumpulan botol kosong, serta petisi solidaritas #SaveGumuk yang dilakukan puluhan undangan yang memenuhi lokasi acara #SaveGumuk. Teguh juga menyampaikan publik bisa memantau aktivitas #SaveGumuk lewat akun twitter @persma_jember dengan hastag #SaveGumuk. (ias)

terimakasih kepada semua pihak yang mendukung seperti :
Perhimpunan Pers Mahasiswa (PPMI) Kota Jember, Cangkruk Lewat Botol Kosong (CLBK), Keluarga Tamasya, Young Gun Veins (YGV), Sekolah Bermain, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pertanian Plantarum, LPM Sastra Ideas, LPM Manifest, LPM Mipa Alpha, LPM UMJ Aktualita, Unit Pers Mahasiswa (UPM) STAIN Millenium, LPM Fisip Prima, LPM Ekonomi Ecpose, Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM) Tegalboto, LPM Poltek Explant, Media Online titik0km.com, UKM Seni Kurusetra, Akademi Berbagi (Akber) Jember, Rumah Baca Tikungan Jember, UKM Dewan Kesenian Kampus (DKK), Vandal Jepit, Komunitas Pecinta Seni (Kompeni) Jember, @mahasiswajember, Kedai Gubug, Macapat Cafe, Warung Kopi Cak Wang, @InfoJember @jember0km

#SaveGumuk

Sumber: http://www.titik0km.com/jalinan-solidaritas-save-gumuk-berencana-beli-gumuk.html

Senin, 30 September 2013

#SaveGumuk




Disini temen - temen dari semua organisasi Universitas yang ada di Jember membuat acara yang namanya Save_Gumuk dimana kita prihatin dengan menghilangnya atau musnahnya gumuk - gumuk yang ada di Jember. Kita tau bahwa Jember merupakan kota seribu gumuk, yang dulunya kita (masyarakat Jember) memiliki 1500 gumuk, namun sekarang sudah menghilang bahkan tersisa hanya 600 gumuk saja. (InsyaAllah kalau gak salah. "dikutip dari: koran Jawa pos Radar Jember edisi Senin 30-09-2013") Bahkan dari salah satu panitia #SaveGumuk kemarin mengatakan kalau gumuk yang ada di Jember mayoritas milik perorangan (juga dikutip dari : koran Jawa pos Radar Jember edisi Senin 30-09-2013")

Maka dari itu, kita sebagai masyarakat Jember yang memiliki intelektual dan kesadaran tinggi terhadap lingkungan disekitar kita, melaksanakan atau mengadakan kegiatan #SaveGumuk, sebagai wadah kepedulian dan keprihatinan kita terhadap gumuk - gumuk yang ada di Kota Jember. Kegiatan ini bertujuan untuk melindungi dan melestarikan ekosistem yang ada didalam gumuk guna mengurangi erosi, kekeringan bahkan bencana alam seperti Gempa Bumi, Angin puting beliung (yang pernah melanda kota Jember beberapa bulan lalu)

Disini saya pribadi hanya memfasilitasi dan mendukung gerakan - gerakan positif teman - teman mahasiswa untuk kegiatan galang dana atau Donasi untuk Gumuk. Teman - teman Pers Mahasiswa Jember menjual T-Shirt atau Kaos oblong yang bertuliskan #SaveGumuk seperti gambar berikut. 
T-Shirt #SaveGumuk


NB: Info lebih lanjut hubungi teman - teman aktifis berikut ini: @SaveGumuk@Save_Gumuk@persma_jember "Terima kasih atas partisipasi dan dukungannya, support terus #SaveGumuk wujudkan kota seribu gumuk"
 

ditulis oleh @bayu_uyub Sumber:http://bayuyabyub68.blogspot.com/2013/10/savegumuk.html

Selasa, 24 September 2013

Save Gumuk

1379717225391354749
Gumuk di Jember - Dokumentasi Donny Dellyar

Tiba-tiba semua orang di kota kecil Jember sedang ramai membicarakan gumuk, baik di warung-warung kopi apalagi di jejaring sosial. Ada apa ya? Ow, ternyata kawan-kawan muda sedang gencar melakukan gerakan moral penyelamatan gumuk bertajuk Save Gumuk.
Aksi kolektif ini bertujuan untuk menyegarkan kembali ingatan kita semua (teristimewa masyarakat Jember dan sekitarnya) bahwa keberadaan gumuk sangatlah penting. Tak heran jika dulu kota kecil ini pernah menyandang gelar sebagai ‘Kota Seribu Gumuk.’
Bagaimana tidak penting, gumuk merupakan salah satu karakter geografis Jember. Dipandang dari sisi pengetahuan, gumuk adalah laboratorium geologis dan agroekosistem. Jika kita lihat dari sisi ekologi, gumuk memegang peranan penting dalam tata air tanah. Juga, sebagai pemecah angin alami. Untuk yang terakhir, saya pernah menuliskannya di artikel berjudul, Gumuk di Jember: Pemecah Angin yang Alami. Itulah gumuk, kita bisa melihat manfaatnya dari berbagai sisi. Baik dari sisi pengetahuan, ekologi, ekonomi, sosial, maupun dari sisi budaya di Jember.

Lalu, Gumuk Itu Apa?
Ketika anda melontarkan pertanyaan itu pada salah satu warga Jember, maka anda akan diberi gambaran tentang sebuah gundukan yang menandakan bahwa itu bukit. Ya benar, gumuk itu serupa dengan bukit tapi lebih kecil. Juga, ada perbedaan dalam kandungannya. Pada gumuk ada terdapat batu-batuan yang tidak dijumpai di gundukan lainnya. Salah satu batuan andalannya untuk memenuhi permintaan pasar dunia adalah batu piring (slate andesif). Batuan lainnya diantaranya adalah batu pondasi, batu koral, batu pedang, dan batu padas.
Di KBBI, pengertian gumuk adalah bukit pasir di tepi laut. Hmm, meskipun Jember memiliki garis pantai yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia, tapi kok nurut saya kurang pas ya. Kurang mewakili. Entah bila di daerah lain. Memang, kata ‘gumuk’ itu sendiri adalah adopsi dari bahasa daerah (Jawa) untuk menyebut sebuah bukit kecil. Kalau menurut Lembaga Penelitian Universitas Jember, gumuk merupakan istilah khusus yang diberikan pada suatu bukit dengan ketinggian berkisar antara 1 meter hingga 57,5 meter. Saya baca itu di Tabloid IDEAS Edisi XV Tahun 2005.
Kelas ketinggian gumuk terbagi dalam 4 kategori:
1. Sangat rendah, kurang dari 10 meter
2. Rendah, antara 11 hingga 25 meter
3. Sedang, antara 26 hingga 50 meter
4. Tinggi, lebih dari 50 meter.


13797213901955998756
Contoh gumuk dengan kelas ketinggian sangat rendah | Dokumentasi Vj Lie


Menurut teori terkuat (Geologische Beschrijving van Java en Madoera - Verbeek dan Vennema), keberadaan gumuk-gumuk di Jember disebabkan oleh letusan Gunung Raung di masa yang lampau. Letusan itu mengalirkan lava dan lahar. Aliran ini kemudian tertutup oleh bahan vulkanik yang lebih muda sampai ketebalan puluhan meter (dari Raung Purba). Kemudian terjadi erosi pada bagian-bagian yang lunak yang terdiri atas sedimen vulkanik lepas-lepas selama kurang lebih 2000 tahun. Dari sanalah tercipta topografi gumuk seperti yang ada sekarang ini.
Itulah kenapa unsur utama gumuk adalah batuan. Sebab gumuk berasal dari lontaran gunung berapi. Setelah ribuan tahun formasi gumuk berubah. Bagian atas gumuk menjadi tanah yang subur karena proses pelapukan (sumber: Tabloid IDEAS Edisi XV Tahun 2005).


Gumuk, Cuma Ada di Tiga Tempat di Dunia?
Masih dari sumber yang sama, Tabloid Ideas - Persma Sastra Universitas Jember. Meskipun dimana-mana (di Pulau Jawa) banyak orang menyebut bukit dengan istilah gumuk, tapi keduanya (bukit dan gumuk) memiliki kandungan yang berbeda. Menurut Ir. Sutrisno M.S (Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fak. Pertanian Universitas Jember), hanya ada dua wilayah di Indonesia yang mempunyai bentang alam berupa gumuk, yaitu di Jember dan Tasikmalaya. Tempat lain yang juga memiliki kekayaan alam berupa gumuk adalah di wilayah sekitar Gunung api Bandai San Jepang.
Jika memang demikian, maka hemat saya gumuk bukan hanya milik warga Jember semata, melainkan adalah kekayaan SDA milik Indonesia. Sayang sekali, kenyataan di lapangan berbeda dengan apa yang diharapkan. Kebanyakan gumuk di Jember adalah milik pribadi dan sebagian besar telah dieksploitasi secara membabi buta. Bolehlah material batuannya dimanfaatkan, tapi tetap harus ada aturan yang jelas untuk menghindari kerugian yang nampak maupun yang tak nampak.

Gumuk, Kekayaan Nusantara Yang Terancam Punah
Saat ini, rasanya Jember sudah tak pantas lagi menyandang predikat sebagai kota seribu gumuk. Sudah banyak gumuk yang ditambang dan kini rata dengan tanah. Jumlahnya pun kini tak sampai seribu.
Aturan hukum penggalian gumuk di Kabupaten Jember sebenarnya sudah tertuang pada Keputusan Gubernur KDH I Jatim No 643 Tahun 1990. Dalam keputusan tersebut tertuang pengaturan perijinan, pengawasan, dan penerapan sangsi. Perijinan penambangan dituangkan dengan menggunakan Surat Ijin Penambangan Daerah (SIPD) yang hak pengeluarannya ada pada Kepala Dinas Pertambangan Daerah. Peraturan tersebut kemudian berlanjut dengan Perda No. 17 Tahun 2002 tentang gumuk yang masuk kategori tambang galian C.
Namun aturan hanyalah tinggal aturan. Penyelenggara Daerah dibuat tak berdaya oleh status kebanyakan gumuk itu sendiri yang merupakan kepemilikan pribadi. Logikanya, si pemilik gumuk memiliki hak penuh untuk melakukan apa saja pada gumuk miliknya. Saya sendiri juga tidak tahu, apakah sudah ada aturan yang bisa memantau pelanggaran hak privat yang disalahgunakan secara berlebih hingga merugikan masyarakat?
Lha, tapi kalau masyarakatnya sendiri belum paham sepenuhnya akan fungsi dan manfaat gumuk (baik langsung atau tidak langsung), maka proses penyelamatan gumuk akan menjadi semakin sulit.
Saya kira, pihak penyelenggara daerah dan instansi terkait sudah mengupayakan berbagai macam cara. Toh, masalah gumuk adalah isu lama. Mosok mereka mau diam saja? Kan penambangan batuan gumuk sudah dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Kalau mereka diam saja, berarti buta. Kalau mereka sudah mengupayakan banyak hal dan dirasa tidak berhasil, maka masalahnya hanya ada pada satu hal, yaitu tentang hak kepemilikan tanah. Dalam hal ini, penyelenggara daerah tidak mempunyai power untuk mengelola gumuk kecuali mereka membeli semua gumuk-gumuk yang ada di Jember. Dan tentu saja itu akan mengeluarkan dana yang sangat besar. Ini langkah yang tidak populer di mata birokrat.
Sebenarnya, segala peraturan itu butuh ditinjau ulang. Mengingat kenyataan di lapangan menunjukkan sektor tambang galian C belum terpantau dengan baik oleh bidang hukum, baik dari segi pengaturan maupun penegakan hukumnya.


Gerakan Moral Save Gumuk
Sekarang, mari kita bicarakan kembali tentang gerakan moral Save Gumuk, sebuah gerakan kolektif di Jember yang saat ini (dan entah sampai kapan) sedang hangat-hangatnya diobrolkan. Acara Save Gumuk murni digagas dan dilaksanakan secara kolektif oleh kawan-kawan Jember, terutama yang ada di wilayah kampus Bumi tegal Boto. Save Gumuk diusung secara bersama-sama, tanpa ada embel-embel apapun selain atas nama kesadaran lingkungan, sosial, budaya, dan pengetahuan. Pendanaannya pun bersifat kolektif. Begitu juga dengan persebaran informasinya. Saling melengkapi dan saling menguatkan. 

1379729997795782158


SAVE GUMUK
Ada dua poin yang ingin dicapai dalam rangkaian acara Save Gumuk ini. Yang pertama, sosialisasi tentang fungsi dan peranan gumuk di Jember. Ini juga bisa ditinjau dari sisi sejarah kota Jember. Kita tahu, ketertarikan pengusaha Belanda untuk menjadikan kota Jember sebagai kota penghasil tembakau (dan menyusul hasil perkebunan lainnya) adalah karena kondisi geografisnya yang berada diantara Gunung Raung dan Gunung Argopuro. Khusus tembakau, tanaman ini memerlukan kondisi spesifik seperti tanah lembab, angin yang tidak terlalu keras, dan terhindar dari cahaya matahari langsung. Itu semua terwakili oleh kota Jember (Ir. Sutrisno M.S - IDEAS 2002).
Sekarang poin kedua yang ingin dicapai dari acara Save Gumuk. Yaitu ingin membeli gumuk secara kolektif. Dengan tujuan, merubah hak kepemilikan pribadi menjadi kepemilikan bersama. Perkara nanti gumuk itu diwakafkan (misal) hingga tak lagi memiliki daya tawar ekonomi, itu apa kata nanti. Bisa diobrolkan sambil berjalan. Yang penting, proses Save Gumuk dimulai dulu. Untuk poin dua ini, orientasinya bukan melulu hasil, tapi proses.

Hmmm, panjang sekali tulisan ini. Baiklah, saya sudahi dulu. Salam Lestari




Sumber http://green.kompasiana.com/penghijauan/2013/09/21/save-gumuk-591805.html

Gumuk di Belakang Rumah Kami

Saya dan apikecil tinggal di sebuah wilayah yang disepakati bernama Jember. Dan tepat di belakang rumah kami ada jalur rel kereta api. Dibangun pada akhir abad 19 (1897) dengan maksud menjadi sarana penghubung antara Jember - Panarukan. Tadinya kendaraan 'ular besi' ini tidak ditujukan untuk melayani manusia (seperti sekarang ini), melainkan untuk memperlancar pengiriman hasil perkebunan, menuju pelabuhan Panarukan. Sesampai di Panarukan, hasil kebun tersebut dikirimkan ke pasar Eropa.

Karena ada udang di balik batu, pihak Pemerintah Kerajaan Belanda sama sekali tidak merasa rugi menanggung seluruh biaya pembangunan jalur kereta api tersebut. Hmmm.. Penjajahan sejak dulu hingga sekarang, model dan gayanya sama saja ya, hanya beda pada jaman dan kemasan.

Eits, saya tidak sedang ingin berbagi kisah tentang 'sepur' ding, maaf.


Gumuk di Belakang Rumah Kami - Dipotret dengan kamera HP 2 MP, 20 September 2013

Jadi begini. Di belakang rumah kami ada rel kereta api. Di seberangnya lagi, kira-kira berjarak 50 meter, ada sebuah bukit kecil dengan kelas ketinggian sangat rendah, yaitu kurang dari 10 meter. Nah, ini dia yang ingin saya ceritakan. Tentang bukit kecil. Orang-orang Jawa biasa menyebutnya Gumuk, beda tipis dengan istilah Madura, Gumok.

Cerita Tentang Gumuk Tak Bernama

Saya memang pelupa dalam banyak hal, tapi bagaimana saya bisa melupakan kenangan masa kecil? Memiliki dua rumah masa kecil (di Patrang dan di Kampung Kreongan, rumah Mbah) bukan berarti saya bisa begitu saja menghempaskan serpih-serpih kenangan saat bocah, saat mengendap-endap merayapi gumuk belakang rumah Patrang.

Gundukan itu tidak bernama. Bapak dan Ibu saya hanya menyebutnya gumuk, titik. Para tetangga juga begitu. Keluarga Pak Saimin, keluarga Suhud, Keluarga Soetardji, Pak Mukri, Lek Bakir, Keluarga Haji Soleh, Haji Linda, semua menyebutnya gumuk saja. Benar-benar tanpa nama, sebab mungkin itu dirasa tidak terlalu penting.

Hampir semua orang mengerti jika di atas gumuk tersebut ada kuburannya. Kabarnya, itu adalah kuburannya para sesepuh wilayah Patrang Tengah. Nisannya tak bernama, tak bertanggal, tak meninggalkan tanda apapun. Pantaslah jika pohon-pohon di gumuk ini lebat, apalagi di musim hujan. Tak ada yang berani menebang pohon, mungkin takut malati.

Di gumuk tak bernama itu pula, ada terdapat sebuah mata air (kolam) dengan ceruk alami yang kecil. Mungkin hanya seluas dua kali bak kamar mandi umum. Ikan yang hidup di sana hanyalah ikan klemar dan ikan kepala timah. Dulu di sini, diantara celah-celah batu piring dan batu padas, di dekat lekukan kolam, saya pernah melihat 'live' seekor ular sawah yang kulitnya didominasi oleh warna coklat tua. Diameternya kurang lebih seukuran botol air mineral 600 ml. Memang, saya tidak sangat detail memandangnya, sebab tak butuh waktu lama bagi seorang RZ Hakim kecil untuk membuat keputusan lari sekencang-kencangnya. Tapi, itu adalah pertama kalinya saya menjumpai seekor ular besar di alam bebas. Mungkin nilah alasan kenapa saya tetap bisa mengingatnya hingga sekarang.

Sayangnya saya tidak bisa mengingat tahun berapakah itu. Tapi samar-samar saya masih mengingat, waktu itu orang-orang dewasa sedang senang-senangnya membicarakan dua hal. Pertama tentang SDSB, yang kedua tentang Penembakan Misterius alias Petrus.

Kabar baiknya, sampai hari ini gumuk tak bernama itu masih ada. Dan di balik kabar baik, tentunya ada kabar kurang baiknya juga. Gumuk itu sekarang gersang. Mata airnya hanya tinggal cerita. Meskipun kuburannya tampak terawat, namun pohonnya tinggal sedikit. Dari yang sedikit itu, didominasi oleh tanaman invansif, Mahoni.

Ketika saya mencoba naik ke atas gumuk, pemandangannya sudah tak sama lagi. Dulu saya bisa dengan mudah memandang hamparan sawah, pertigaan Perumnas Patrang, dan segala hal yang menyenangkan yang bisa saya lihat. Percayalah, Gunung Raung tampak semakin terlihat cantik jika dipandang dari atas gumuk ini.

Benar, Gunung Raung terlihat cantik dari sini. Konon, teori terkuat akan asal usul keberadaan gumuk-gumuk di Jember adalah karena akibat letusan Gunung Raung. Letusan itu mengalirkan lava dan lahar. Aliran ini kemudian tertutup oleh bahan vulkanik yang lebih muda sampai ketebalan puluhan meter (dari Raung Purba). Kemudian terjadi erosi pada bagian-bagian yang lunak yang terdiri atas sedimen vulkanik lepas-lepas selama kurang lebih 2000 tahun. Dari sanalah tercipta topografi gumuk seperti yang ada sekarang ini.

Itu teori dari Verbeek dan Vennema. Keduanya adalah para Geolog yang (jika di Indonesia) namanya sejajar dengan Geolog seperti Junghuhn dan van Bemmelen. Bagi yang tertarik, bisa mencari bukunya Verbeek dan Vennema yang berjudul, Geologische Beschrijving van Java en Madoera (1896). Kalau nemu, pinjam ya, hehe..

Teori yang lain dan yang tak kalah populer, gumuk berasal dari material lontaran (dari atas ke bawah) yang diakibatkan oleh letusan Gunung, dan itu adalah Gunung Raung. Sayangnya basic saya sastra, jadi untuk menjelaskan poin ini saya memiliki keterbatasan pengetahuan dan istilah geologi. Maaf..

Itulah yang membedakan antara gumuk dan bukit, atau gumuk dan gundukan tanah (atau pasir). Meskipun dimana-mana (di Pulau Jawa) banyak orang menyebut bukit dengan istilah gumuk, tapi kandungannya berbeda dengan gumuk yang ada di Jember. Jika membaca tabloid IDEAS Edisi XV tahun 2005, dapat kita ketahui bahwa hanya ada dua wilayah di Indonesia yang mempunyai bentang alam berupa gumuk, yaitu di Jember dan Tasikmalaya (Ir. Sutrisno M.S, Dosen Jurusan Ilmu Tanah Fak. Pertanian UJ).

Tempat lain yang juga memiliki kekayaan alam berupa gumuk adalah di wilayah sekitar Gunung api Bandai San Jepang (terjadinya karena erupsi ultra-volcanic, sumber dari sini).

Dengan segala keunikannya, maka hemat saya gumuk bukan hanya milik warga Jember semata, melainkan kekayaan SDA milik Indonesia. Berhubung ada di Jember maka kita wajib menjaganya, untuk Indonesia dan dunia.

Bukan hanya Gunung Raung, dulu saya bahkan bisa menatap dapur dan sumur rumah saya sendiri. Jika tidak beruntung, Ibu bisa melihat putranya naik-naik ke puncak gumuk. Bisa dipastikan, tak lama kemudian beliau akan memanggil-manggil nama saya. Artinya, waktu bermain saya habis. Bagi saya, kurangnya jatah bermain sama dengan menyebalkan.

Hai haiii.. Saya hampir melupakan satu hal yang teramat penting. Gunung Argopuro. Ya, Argopuro dan puncak Rengganisnya yang manis, jika kau tatap dari gumuk tak bernama ini, aahh... Tetap sederhana tapi menakjubkan. Dan itu gratis kawan. Untuk memandang Argopuro, kau tidak harus mengeluarkan uang seperti ketika membeli air mineral milik nenek moyangmu sendiri namun dikemas oleh investor asing. Tataplah keindahan itu sepuas-puasnya, sebelum dia 'dihancurkan' oleh sang pemuja uang.

Istri saya dalam pelukan Argopuro, nun di kejauhan sana

Sial benar nasib gumuk ini. Meskipun dia tak terjual (mungkin belum) ke tangan investor, tapi keberadaannya kini tersudutkan oleh Perumahan Pesona Regency Patrang, yang dikelola oleh PT. MANDIRI RAYA UTAMA. Sekarang sisi kanan gumuk sudah di pres. Katanya untuk pelebaran jalan, demi kepentingan bersama. Nyatanya, pengepresan itu hanya membuat hilangnya humus tanah di tepian gumuk. Ya, meskipun tak seberapa tinggi, sayang sekali jika tepian gumuk ini rusak. Bagaimanapun, longsor (kecil-kecilan) dan penggerusan alami hanya tinggal masalah waktu.

Apa sulitnya membangun perumahan yang ramah lingkungan?

Sisi Gumuk yang dipres, dan Perumahan Modern

Tetaplah Menjulang dan Jangan Hilang

Belajar dari gumuk di belakang rumah kami, saya jadi sangat percaya jika gumuk memiliki peran alam yang cukup penting. Gumuk berperan sebagai penyangga aktivitas ekosistem dan penyedia kekayaan hayati. Dialah 'bank data' gratis yang disediakan oleh Sang pencipta.

Ketika vegetasi di dalam gumuk masih beraneka ragam, maka sangat memungkinkan bagi gumuk untuk melakoni peran sebagai penyimpan air yang bagus. Efek ikutannya, kesuburan tanah terjaga. Pemilik gumuk tak perlu repot-repot 'pasang badan' pada jeratan iklan pupuk kimia.

Ah, padahal gumuk di belakang rumah kami hanyalah gumuk yang berkelas ketinggian sangat rendah sekali. Ternyata sangat penting. Setidaknya dia pernah menjaga saya dari dahsyatnya angin yang turun dari Argopuro dan Raung. Ia menghambat arah angin yang semula lurus dan keras, hingga akhirnya kecepatan angin pun menurun. Bolehlah saya bilang jika gumuk bisa dengan alami menstabilkan gerak angin. Melihat pemetaan wilayahnya, warga Jember sangat butuh gumuk. Jangan ada lagi pemikiran 'yang penting ada gumuk' sebab lebih indah jika kita berpikir bahwa gumuk itu penting.

Masalahnya, banyak pihak tergoda untuk menggali batuan gumuk. Melihat batu piringnya yang memiliki kerlip warna alami, adanya daya tawar, dan siapa yang tak tergoda untuk mengeksekusi nilai ekonomisnya? Padahal isi dari perut gumuk tak hanya batu piring saja. Masih ada yang lain seperti batu koral, batu pedang, padas, batu pondasi, pasir, dan entahlah.. Semua yang menggiurkan itu takkan pernah bisa membungkam keserakahan manusia. Rata-rata dari kita sudah tak lagi ingat sebuah kalimat sakti, "Memanfaatkan SDA sesuai dengan kebutuhan, bukan keserakahan!"

Dari sisi ekonomis menggiurkan, dari sisi ekologis menghancurkan. Kita semua tahu itu. Mungkin kita juga sudah paham jika gumuk terus menerus digerus, suatu hari masyarakat akan menanggung biaya sosial dari semua ini. Kesadaran lingkungan itu memang pilihan. Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita. Tapi jika kita memilih untuk meremehkannya, maka bencana adalah sebuah kepastian.

Gumuk, tetaplah menjulang dan jangan hilang..

Sebagai penutup, ada sebuah persembahan sederhana dari Tamasya Band. Sebuah lagu berjudul GMK alias GUMUK.

GMK By Tamasya Band

Bertebaran seperti gunung-gunung tinggi
Namun itu hanya gunung kecil
berjajar-jajar ibaratnya bukit
Namun itu hanya bukit kecil

Seperti biasa tapi tak biasa
Sungguh luar biasa
Cuma ada tiga di dunia

Dimanakah wajah kotaku yang dulu indah
Tergantikan tuntutan jaman
Tak bisakah kita menunjukkan rasa cinta
Menyisakan satu gumuk saja

Istimewa tapi dianggap biasa saja
Itulah GUMUK.. Bukit-bukit kecil



Sedikit Tambahan

Ketika tak ada lagi burung trucuk, capung, kunang-kunang, dan apapun yang mau singgah di Gumuk belakang rumah kami seperti dulu, seharusnya saya sudah tahu jika mata air di atas gumuk itu telah punah. Pada kenyataannya, saya baru menyadarinya tadi pagi, ketika mendaki gumuk di belakang rumah.

Ketika air sumur di rumah saya tak lagi sejernih dulu, tiba-tiba saya merindukan masa kecil. Saat dimana saya bebas berlari dan belajar mengendalikan rasa takut pada nisan-nisan kuburan, juga pekatnya pepohonan di gumuk.

Ketika setengah tahun yang lalu Jember (wilayah kota) diterjang puting beliung dan memakan korban, tiba-tiba banyak yang menanyakan keberadaan gumuk. Begitu juga ketika harga tembakau (dan hasil perkebunan lainnya) anjlok, tiba-tiba banyak warga Jember yang rindu memandang gumuk.

Ketika.. Sudah ah. Terima kasih dan Salam Lestari! 




Sumber:  www.acacicu.com/2013/09/gumuk-di-belakang-rumah-kami.html

Peduli pada Gumuk Berarti Peduli pada Siklus Hidup Masyarakat Jember



Salam Persma!
Salam Lestari!
Salam Budaya!

Gumuk sudah seharusnya mulai diperhatikan khususnya oleh masyarakat Jember. Sebuah gundukan kecil mirip gunung dengan kandungan bahan galian C ini, tergolong bentukan fenomena alam yang sangat langka dan cenderung unik. Seiring berkembangnya aktivitas dan kebutuhan masyarakat, gumuk seringkali harus merugi karenanya. Pemanfaatan lahan gumuk dalam bentuk eksploitasi lingkungan terjadi sejak sekitar tahun 1990. Semakin hari jumlah gumuk semakin menurun. Dari jumlah awal sekitar 1500, kini hanya berkisar 600.

Predikat langka untuk gumuk ini karena bentukan teksturnya berasal dari letusan gunung Raung. Aliran larva dan material vulkanik membentuk lapisan dan mengendap selama ribuan tahun. Berdasarkan hasil identifikasi tipografi, ternyata di seluruh dunia ini, keberadaan gumuk hanya terdapat di tiga tempat. Antara lain di dua negara yaitu Indonesia dan Jepang. Sementara di Indonesia ada dua, di Tasikmalaya dan Jember. Berbeda dengan Jember, ada beberapa sumber yang menyatakan keberadaan gumuk di Tasikmalaya sudah sulit ditemukan. Eksploitasi telah merenggut keberadaannya.

Selain itu gumuk menyimpan begitu banyak fungsi yang sangat erat kaitannya dengan rangkaian alur hidup ekosistem. Gumuk sebagai kawasan bertahan hidup dan berkembangnya berbagai ekosistem alami baik flora maupun fauna. Keberadaan ekosistem  tersebut berhubungan erat dengan manusia. Tentu saja karena manusia hidup di muka bumi ini selalu bertumpu pada lingkungannya. Oleh karenanya bisa dikatakan gumuk sebagai paru-paru kota.

Di sisi lain tubuh gumuk mampu memecah angin. Hembusan angin kencang senantiasa tertahan karenanya. Kondisi geografis Jember yang langsung berbatasan dengan laut selatan dan berada di antara perbukitan. Tidak menutup kemungkinan berpotensi besar terhadap tingkah laku dari cuaca ekstrem berupa  angin tornado dan tsunami. Sehingga keberadaan gumuk menjadi benteng alam yang mampu meredam potensi bencana itu.

Berdasarkan fungsi tersebut, gumuk turut berperan membentuk iklim yang khas di Jember. Iklim ini sangat berpengaruh terhadap hasil pertanian masyarakat Jember. Tak heran jika Jember pernah dianggap sebagai lumbung pangan nasional oleh Nawiyanto, Sejarawan Jember.

Gumuk juga berfungsi sebagai resapan air dan filter air. Fungsi ini sangat jelas menjadi faktor utama dalam kesehatan dan kebutuhan primer manusia di sekitarnya. Tanpa adanya gumuk, pemukiman di sekitarnya akan sulit mendapatkan air, terutama air bersih.

Akan tetapi seringkali manusia terlalu menuntut lebih dari apa yang tersedia di alam. Hingga muncul hasrat untuk mengeksploitasi kandungan gumuk. Tindakan tersebut memang tidak lepas dari terkikisnya kesadaran dan kepedulian manusia terhadap lingkungannya.

Kepedulian terhadap gumuk kian lama makin pudar. Serentetan persoalan-persoalan terkait gumuk datang dari berbagai macam hal. Mulai kesadaran masyarakat, kebijakan pemerintah, sampai pada status gumuk sebagai milik privat yang akhirnya juga mengarah pada permasalahan ekonomi pemilik gumuk. Sehingga sampai sekarang penambangan gumuk terus berlangsung dan tidak ada yang mampu mencegahnya.

Gumuk-gumuk di Jember memang menjadi milik perseorangan. Namun ketika terjadi perusakan atau ekspolitasi maka seluruh masyarakat Jember akan menanggung dampaknya. Hal tersebut terjadi karena gumuk merupakan tulang punggung bagi terus mengalirnya pemenuhan kebutuhan ekonomi, sejarah, terhindar dari resiko bencana, dan air sebagai kebutuhan hidup primer masyarakat Jember. Maka dari itu upaya untuk memikirkan masa depan gumuk sama halnya dengan memikirkan masa depan masyarakat Jember.

Sebenarnya sudah ada perhatian dari komunitas-komunitas pemerhati lingkungan terhadap gumuk dari tahun 1997. Ide-ide dan proses antusiasme untuk menjaga kemudian mentok sampai pada status kepemilikan personal gumuk. Ketika menjadi milik personal otomatis si pemilik gumuk bebas untuk mengolah, memanfaatkan, bahkan menjualnya. Hingga akhirnya muncul sebuah gagasan untuk membeli gumuk dari para pecinta alam Jember. Sebuah gagasan yang timbul sebagai simbolisasi dari sudah tidak ada cara lain untuk menyelamatkan gumuk, selain harus membelinya. Kemudian mencapai tujuan untuk merubah status kepemilikan pribadi menjadi kepemilikan bersama.

Kini gerak kepedulian itu diperbarui dengan mempertemukan solidaritas dari berbagai komunitas dan elemen masyarakat yang peduli terhadap gumuk. Upaya ini diharapkan mampu mendorong solidaritas lebih besar bersama seluruh elemen masyarakat Jember untuk lebih sadar dan peduli terhadap gumuk.

Inisiatif jalinan solidaritas ini dinamakan Save Gumuk atau yang akan mengatasnamakan #SaveGumuk sebagai ikon kegiatan. Bisa dikatakan sebagai suatu jalinan kepedulian kolektif dari berbagai macam komunitas di Jember. Melalui kegiatan ini kami akan bersama-sama membangunkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat gumuk-gumuk di Jember.


Ada beberapa rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan pada 28 September, bertempat di Gunung Batu, Jember, Jatim. Rangkaian kegiatan tersebut antara lain:

1.       Accoustic Performance. Band yang akan tampil yaitu The Penkors, From This Accident, Black Dog, Tamasya, Pispot, Gudang Production. Dalam fase kegiatan yang satu ini bermaksud akan menarik minat dan semangat para pemuda Jember. Tentu saja setiap band yang tampil akan memberikan statment mereka tentang gumuk. Oleh karena itu tidak sekedar berbentuk hiburan tapi ada balutan sifat edukatif.

2.       Pembacaan Puisi dan Pertunjukkan Tari oleh Sastrawan Muda Jember. Kondisi alur hidup kesusastraan Jember meredup, baik dalam bentuk kegiatan atau karya sastra itu sendiri. Padahal pembacaan puisi dan pertunjukkan tari kedok putih, bisa menjadi suatu momentum perenungan. Oleh karena itu dalam acara ini akan ada pembacaan  pembacaan puisi dan pertunjukkan tari, berniat mengajak para pengunjung merenungkan seputar buruknya kondisi lingkungan.

3.       Cangkruk’an. Berisi agenda bincang santai dengan para narasumber yang telah lama memantau perkembangan dan wacana seputar gumuk-gumuk di Jember. Bincang santai ini sebagai pemantik bagi kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan minimal dua minggu setelah acara ini.

4.       Pengumpulan Koin untuk Gumuk. Inisasi pengumpulan donasi untuk membeli gumuk ini sudah ada sejak lama oleh beberapa orang pecinta alam di Jember. Mereka berkeinginan untuk merubah status gumuk sebagai kepemilikan pribadi menjadi milik bersama. Oleh karena itu kami berniat mendukung rencana membeli gumuk dengan cara mengumpulkan donasi.
Sebelum kegiatan ini berlangsung, panitia sudah menyebar 30 kotak donasi di beberapa titik. Teknis dan penjagaan kotak donasi dibantu jejaring organisasi maupun komunitas di Jember. Kemudian ketika acara berlangsung, 30 kotak tersebut dikumpulkan untuk kemudian dijumlah hasil donasinya. Setelah diketahui hasilnya maka akan ada penyerahan secara simbolis dari panitia #SaveGumuk, kepada para pemerhati gumuk dan pecinta alam tersebut.
Namun tidak menutup kemungkinan penghimpunan donasi untuk membeli gumuk ini akan dilanjutkan meskipun acara #SaveGumuk selesai. Ruang untuk donasi masih terbuka lebar dan berlangsung sampai pada waktu yang belum diketahui. Hanya saja pasca kegiatan #SaveGumuk, pengumpulan donasi tidak dilakukan oleh panitia lagi akan tetapi oleh para pemerhati gumuk dan pecinta alam di Jember.

5.       Penjualan Kaos #SaveGumuk. Biaya produksi kaos ini menghabiskan dana 42ribu/kaos. Sedangkan kami menjualnya seharga 70ribu/kaos. Selisih 28ribu hasil penjualan akan disumbangkan 100% untuk pengumpulan donasi koin gumuk. Secara tidak langsung kami memberikan varian donasi atau dalam kata lain bagi yang ingin berdonasi silahkan membeli kaos ini. Meskipun ada bentuk donasi yang lain yaitu kotak donasi koin untuk gumuk.

6.       Pengumpulan Botol Kosong. Bekerjasama dengan Cangkruk Lewat Botol Kosong (CLBK) kami mengagendakan pula pengumpulan botol kosong. Botol-botol kosong yang terkumpul nanti akan diuangkan. Kemudian hasil penjualan botol bekas akan didonasikan pula untuk membeli gumuk. Oleh karena itu para pengunjung diharapkan datang ke lokasi dengan membawa botol kososng.

7.       Aksi Tanda Tangan Solidaritas #SaveGumuk. Di lokasi kegiatan, Gumuk Gunung Batu Jember, para pengunjung yang datang setelah mengisi absensi akan diberikan lembar pendataan jejaring solidaritas. Dalam lembar itu para pengunjung bisa memberikan statment tertulis seputar kondisi gumuk-gumuk di Jember. Selain itu bisa mencantumkan identitas komunitas, band, organisasinya sekaligus tanda tangan. Hal tersebut merupakan pembuktian atau pernyataan jika komunitas, band, atau organisasi pengunjung tersebut turut mendukung untuk #SaveGumuk.

8.       Live Art Performing. Jejaring para artis street art lokal Jember akan bergabung dan menggambar bersama di lokasi kegiatan #SaveGumuk.

Untuk sementara ini seperti itulah rangkaian acara #SaveGumuk. Mengenai perkembangan proses kegiatan ini publik bisa memantau lewat akun twitter @persma_jember dengan hastag #SaveGumuk. Demikian penjelasan kami mengenai garis besar acara. Kami haturkan terima kasih dan rasa salut bagi masyarakat Indonesia yang peduli pada gumuk-gumuk di Jember.

Jabat erat,
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember.



Kegiatan #SaveGumuk ini diselenggarakan oleh:
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember, Cangkruk Lewat Botol Kosong (CLBK), Keluarga Tamasya, Young Gun Veins (YGV), Sekolah Bermain, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pertanian Plantarum, LPM Sastra Ideas, LPM Manifest, LPM Mipa Alpha, LPM UMJ Aktualita, Unit Pers Mahasiswa (UPM) STAIN Millenium, LPM Fisip Prima, LPM Ekonomi Ecpose, Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM) Tegalboto, LPM Poltek Explant.

Dalam pelaksanaannya kegiatan ini dibantu oleh jejaring solidaritas yaitu (terus berkembang):
UKM Seni Kurusetra, UKM Kesenian Unej, Babebo[zine], Akademi Berbagi (Akber) Jember, Rumah Baca Tikungan Jember, UKM Dewan Kesenian Kampus (DKK), Vandal Jepit, Komunitas Pecinta Seni (Kompeni) Jember, @mahasiswajember, Kedai Gubug, Macapat Cafe, Warung Kopi Cak Wang, Cafe Naong, Do Cafe, @InfoJember, Boker Fams, FINGER: Kolektif Indie Grup Jember, Mapensa, dll.

Selasa, 17 September 2013

Siaran Pers

Peduli pada Gumuk Berarti Peduli pada Siklus Hidup Masyarakat Jember

Salam Persma!
Salam Lestari!
Salam Budaya!

Gumuk sudah seharusnya mulai diperhatikan khususnya oleh masyarakat Jember. Sebuah gundukan kecil mirip gunung dengan kandungan bahan galian C ini, tergolong bentukan fenomena alam yang sangat langka dan cenderung unik. Seiring berkembangnya aktivitas dan kebutuhan masyarakat, gumuk seringkali harus merugi karenanya. Pemanfaatan lahan gumuk dalam bentuk eksploitasi lingkungan terjadi sejak sekitar tahun 1990. Semakin hari jumlah gumuk semakin menurun. Dari jumlah awal sekitar 1500, kini hanya berkisar 600.

Predikat langka untuk gumuk ini karena bentukan teksturnya berasal dari letusan gunung Raung. Aliran larva dan material vulkanik membentuk lapisan dan mengendap selama ribuan tahun. Berdasarkan hasil identifikasi tipografi, ternyata di seluruh dunia ini, keberadaan gumuk hanya terdapat di tiga tempat. Antara lain di dua negara yaitu Indonesia dan Jepang. Sementara di Indonesia ada dua, di Tasikmalaya dan Jember. Berbeda dengan Jember, ada beberapa sumber yang menyatakan keberadaan gumuk di Tasikmalaya sudah sulit ditemukan. Eksploitasi telah merenggut keberadaannya.

Selain itu gumuk menyimpan begitu banyak fungsi yang sangat erat kaitannya dengan rangkaian alur hidup ekosistem. Gumuk sebagai kawasan bertahan hidup dan berkembangnya berbagai ekosistem alami baik flora maupun fauna. Keberadaan ekosistem  tersebut berhubungan erat dengan manusia. Tentu saja karena manusia hidup di muka bumi ini selalu bertumpu pada lingkungannya. Oleh karenanya bisa dikatakan gumuk sebagai paru-paru kota.

Di sisi lain tubuh gumuk mampu memecah angin. Hembusan angin kencang senantiasa tertahan karenanya. Kondisi geografis Jember yang langsung berbatasan dengan laut selatan dan berada di antara perbukitan. Tidak menutup kemungkinan berpotensi besar terhadap tingkah laku dari cuaca ekstrem berupa  angin tornado dan tsunami. Sehingga keberadaan gumuk menjadi benteng alam yang mampu meredam potensi bencana itu.

Berdasarkan fungsi tersebut, gumuk turut berperan membentuk iklim yang khas di Jember. Iklim ini sangat berpengaruh terhadap hasil pertanian masyarakat Jember. Tak heran jika Jember pernah dianggap sebagai lumbung pangan nasional oleh Nawiyanto, Sejarawan Jember.

Gumuk juga berfungsi sebagai resapan air dan filter air. Fungsi ini sangat jelas menjadi faktor utama dalam kesehatan dan kebutuhan primer manusia di sekitarnya. Tanpa adanya gumuk, pemukiman di sekitarnya akan sulit mendapatkan air, terutama air bersih.

Akan tetapi seringkali manusia terlalu menuntut lebih dari apa yang tersedia di alam. Hingga muncul hasrat untuk mengeksploitasi kandungan gumuk. Tindakan tersebut memang tidak lepas dari terkikisnya kesadaran dan kepedulian manusia terhadap lingkungannya.

Kepedulian terhadap gumuk kian lama makin pudar. Serentetan persoalan-persoalan terkait gumuk datang dari berbagai macam hal. Mulai kesadaran masyarakat, kebijakan pemerintah, sampai pada status gumuk sebagai milik privat yang akhirnya juga mengarah pada permasalahan ekonomi pemilik gumuk. Sehingga sampai sekarang penambangan gumuk terus berlangsung dan tidak ada yang mampu mencegahnya.

Gumuk-gumuk di Jember memang menjadi milik perseorangan. Namun ketika terjadi perusakan atau ekspolitasi maka seluruh masyarakat Jember akan menanggung dampaknya. Hal tersebut terjadi karena gumuk merupakan tulang punggung bagi terus mengalirnya pemenuhan kebutuhan ekonomi, sejarah, terhindar dari resiko bencana, dan air sebagai kebutuhan hidup primer masyarakat Jember. Maka dari itu upaya untuk memikirkan masa depan gumuk sama halnya dengan memikirkan masa depan masyarakat Jember.

Sebenarnya sudah ada perhatian dari komunitas-komunitas pemerhati lingkungan terhadap gumuk dari tahun 1997. Ide-ide dan proses antusiasme untuk menjaga kemudian mentok sampai pada status kepemilikan personal gumuk. Ketika menjadi milik personal otomatis si pemilik gumuk bebas untuk mengolah, memanfaatkan, bahkan menjualnya. Hingga akhirnya muncul sebuah gagasan untuk membeli gumuk dari para pecinta alam Jember. Sebuah gagasan yang timbul sebagai simbolisasi dari sudah tidak ada cara lain untuk menyelamatkan gumuk, selain harus membelinya. Kemudian mencapai tujuan untuk merubah status kepemilikan pribadi menjadi kepemilikan bersama.

Kini gerak kepedulian itu diperbarui dengan mempertemukan solidaritas dari berbagai komunitas dan elemen masyarakat yang peduli terhadap gumuk. Upaya ini diharapkan mampu mendorong solidaritas lebih besar bersama seluruh elemen masyarakat Jember untuk lebih sadar dan peduli terhadap gumuk.

Inisiatif jalinan solidaritas ini dinamakan Save Gumuk atau yang akan mengatasnamakan #SaveGumuk sebagai ikon kegiatan. Bisa dikatakan sebagai suatu jalinan kepedulian kolektif dari berbagai macam komunitas di Jember. Melalui kegiatan ini kami akan bersama-sama membangunkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat gumuk-gumuk di Jember.


Ada beberapa rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan pada 28 September, bertempat di Gunung Batu, Jember, Jatim. Rangkaian kegiatan tersebut antara lain:

1.       Accoustic Performance. Band yang akan tampil yaitu The Penkors, From This Accident, Black Dog, Tamasya, Pispot, Gudang Production. Dalam fase kegiatan yang satu ini bermaksud akan menarik minat dan semangat para pemuda Jember. Tentu saja setiap band yang tampil akan memberikan statment mereka tentang gumuk. Oleh karena itu tidak sekedar berbentuk hiburan tapi ada balutan sifat edukatif.

2.       Pembacaan Puisi dan Pertunjukkan Tari oleh Sastrawan Muda Jember. Kondisi alur hidup kesusastraan Jember meredup, baik dalam bentuk kegiatan atau karya sastra itu sendiri. Padahal pembacaan puisi dan pertunjukkan tari kedok putih, bisa menjadi suatu momentum perenungan. Oleh karena itu dalam acara ini akan ada pembacaan  pembacaan puisi dan pertunjukkan tari, berniat mengajak para pengunjung merenungkan seputar buruknya kondisi lingkungan.

3.       Cangkruk’an. Berisi agenda bincang santai dengan para narasumber yang telah lama memantau perkembangan dan wacana seputar gumuk-gumuk di Jember. Bincang santai ini sebagai pemantik bagi kegiatan diskusi yang akan dilaksanakan minimal dua minggu setelah acara ini.

4.       Pengumpulan Koin untuk Gumuk. Inisasi pengumpulan donasi untuk membeli gumuk ini sudah ada sejak lama oleh beberapa orang pecinta alam di Jember. Mereka berkeinginan untuk merubah status gumuk sebagai kepemilikan pribadi menjadi milik bersama. Oleh karena itu kami berniat mendukung rencana membeli gumuk dengan cara mengumpulkan donasi.
Sebelum kegiatan ini berlangsung, panitia sudah menyebar 30 kotak donasi di beberapa titik. Teknis dan penjagaan kotak donasi dibantu jejaring organisasi maupun komunitas di Jember. Kemudian ketika acara berlangsung, 30 kotak tersebut dikumpulkan untuk kemudian dijumlah hasil donasinya. Setelah diketahui hasilnya maka akan ada penyerahan secara simbolis dari panitia #SaveGumuk, kepada para pemerhati gumuk dan pecinta alam tersebut.
Namun tidak menutup kemungkinan penghimpunan donasi untuk membeli gumuk ini akan dilanjutkan meskipun acara #SaveGumuk selesai. Ruang untuk donasi masih terbuka lebar dan berlangsung sampai pada waktu yang belum diketahui. Hanya saja pasca kegiatan #SaveGumuk, pengumpulan donasi tidak dilakukan oleh panitia lagi akan tetapi oleh para pemerhati gumuk dan pecinta alam di Jember.

5.       Penjualan Kaos #SaveGumuk. Biaya produksi kaos ini menghabiskan dana 42ribu/kaos. Sedangkan kami menjualnya seharga 70ribu/kaos. Selisih 28ribu hasil penjualan akan disumbangkan 100% untuk pengumpulan donasi koin gumuk. Secara tidak langsung kami memberikan varian donasi atau dalam kata lain bagi yang ingin berdonasi silahkan membeli kaos ini. Meskipun ada bentuk donasi yang lain yaitu kotak donasi koin untuk gumuk.

6.       Pengumpulan Botol Kosong. Bekerjasama dengan Cangkruk Lewat Botol Kosong (CLBK) kami mengagendakan pula pengumpulan botol kosong. Botol-botol kosong yang terkumpul nanti akan diuangkan. Kemudian hasil penjualan botol bekas akan didonasikan pula untuk membeli gumuk. Oleh karena itu para pengunjung diharapkan datang ke lokasi dengan membawa botol kososng.

7.       Aksi Tanda Tangan Solidaritas #SaveGumuk. Di lokasi kegiatan, Gumuk Gunung Batu Jember, para pengunjung yang datang setelah mengisi absensi akan diberikan lembar pendataan jejaring solidaritas. Dalam lembar itu para pengunjung bisa memberikan statment tertulis seputar kondisi gumuk-gumuk di Jember. Selain itu bisa mencantumkan identitas komunitas, band, organisasinya sekaligus tanda tangan. Hal tersebut merupakan pembuktian atau pernyataan jika komunitas, band, atau organisasi pengunjung tersebut turut mendukung untuk #SaveGumuk.

8.       Live Art Performing. Jejaring para artis street art lokal Jember akan bergabung dan menggambar bersama di lokasi kegiatan #SaveGumuk.

Untuk sementara ini seperti itulah rangkaian acara #SaveGumuk. Mengenai perkembangan proses kegiatan ini publik bisa memantau lewat akun twitter @persma_jember dengan hastag #SaveGumuk. Demikian penjelasan kami mengenai garis besar acara. Kami haturkan terima kasih dan rasa salut bagi masyarakat Indonesia yang peduli pada gumuk-gumuk di Jember.

Jabat erat,
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember.



Kegiatan #SaveGumuk ini diselenggarakan oleh:
Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Kota Jember, Cangkruk Lewat Botol Kosong (CLBK), Keluarga Tamasya, Young Gun Veins (YGV), Sekolah Bermain, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pertanian Plantarum, LPM Sastra Ideas, LPM Manifest, LPM Mipa Alpha, LPM UMJ Aktualita, Unit Pers Mahasiswa (UPM) STAIN Millenium, LPM Fisip Prima, LPM Ekonomi Ecpose, Unit Kegiatan Pers Kampus Mahasiswa (UKPKM) Tegalboto, LPM Poltek Explant.

Dalam pelaksanaannya kegiatan ini dibantu oleh jejaring solidaritas yaitu (terus berkembang):
UKM Seni Kurusetra, UKM Kesenian Unej, Babebo[zine], Akademi Berbagi (Akber) Jember, Rumah Baca Tikungan Jember, UKM Dewan Kesenian Kampus (DKK), Vandal Jepit, Komunitas Pecinta Seni (Kompeni) Jember, @mahasiswajember, Kedai Gubug, Macapat Cafe, Warung Kopi Cak Wang, Cafe Naong, Do Cafe, @InfoJember, Boker Fams, FINGER: Kolektif Indie Grup Jember, Mapensa, dll.